Bergabung dengan PPSW bukanlah hal yang mudah untuk Rohaeti. Rohaeti atau biasa dipanggil Iroh atau Eroy oleh rekan-rekan seperjuangannya adalah sosok perempuan kuat fisik dan mentalnya, sosok perempuan pemimpin yang bisa membimbing kelompok perempuan basis menuju masa pencerahan. Iroh yang berusia 39 tahun adalah ketua koperasi Kondang Jaya, ketua forum wilayah Pandeglang, guru honorer SD di Pandeglang, penjual baju kreditan, dan pengurus KWPS (Koperasi Wanita Pengembang Sumberdaya).

Bermula pada tahun 2001, ketika itu Iroh menjadi kader di desa Kondang Jaya, Iroh kebetulan dekat dengan ibu kepala desa. Saat itu ibu kepala desa Kondang Jaya ingin membuat sebuah koperasi di desanya namun bingung memilih siapa saja pengurusnya, dan beliau pun menunjuk Iroh sebagai pengurus koperasi itu. Sebelum koperasi itu terwujud, seorang kader kelompok dampingan PPSW yang sudah berdiri sejak tahun 90-an menceritakan, bahwa di desanya sudah terbentuk koperasi simpan pinjam yang kegiatannya bukan hanya simpan pinjam, tapi banyak pelatihan-pelatihannya dan ada yang membimbing.

Bermula pada tahun 2001, ketika itu Iroh menjadi kader di desa Kondang Jaya, Iroh kebetulan dekat dengan ibu kepala desa. Saat itu ibu kepala desa Kondang Jaya ingin membuat sebuah koperasi di desanya namun bingung memilih siapa saja pengurusnya, dan beliau pun menunjuk Iroh sebagai pengurus koperasi itu. Sebelum koperasi itu terwujud, seorang kader kelompok dampingan PPSW yang sudah berdiri sejak tahun 90-an menceritakan, bahwa di desanya sudah terbentuk koperasi simpan pinjam yang kegiatannya bukan hanya simpan pinjam, tapi banyak pelatihan-pelatihannya dan ada yang membimbing.Setelah itu ibu kepala desa dan Iroh pun diundang oleh kader tersebut untuk mengikuti pelatihan Pencegahan Kekerasan Terhadap Perempuan. Saat itu Iroh dan ibu kepala desa merasa tersanjung dan senang karena walaupun mereka bukan anggota kelompok dampingan PPSW tapi diundang ke acara tersebut.

Setelah pulang dari pelatihan itu, Iroh menghubungi TPL (Tenaga Pendamping Lapang) Pandeglang meminta agar di desanya dibentuk kelompok koperasi simpan pinjam juga, setelah disetujui TPL, kepala desa dan masyarakat sekitar, Iroh pun membentuk kelompok yang bernama Kondang Jaya pada Mei 2001 dengan jumlah anggota awal sebanyak 18 orang. Iroh pun aktif mengajak ibu-ibu di sekitarnya untuk bergabung dengan kelompoknya, Iroh sering datang mengunjungi TPL untuk sekedar bertanya dan menceritakan hambatan-hambatan yang dialaminya di dalam kelompok. Setelah 8 tahun berjalan, Iroh berhasil mengajak 106 anggota untuk bergabung di kelompoknya. Bahkan anggota kelompoknya ada juga yang membuat kelompok sendiri.

Masa selama 8 tahun ini tidak dilaluinya dengan mudah, karena saat ia hamil besar anak ke empatnya, putra ke tiganya meninggal, dan 20 hari setelah itu, bayi di dalam kandungannya pun tidak bisa selamat dan meninggal. “Saya sebenarnya malu, saya kan kader kespro juga, dimana-mana saya mengajarkan dan menekankan pada ibu-ibu untuk menjaga kehamilannya..tapi saya sendiri yang malah kehilangan, tapi ya saya anggap itu adalah takdir, ajal dari Allah”.


Saat itu banyak masyarakat yang menghujat Iroh, menyalahkan dirinya karena terlalu sibuk sampai-sampai anaknya terlantar. Tapi Iroh adalah Iroh, seorang perempuan yang tegar dan bersikap cuek, karena kehilangan 2 buah hatinya dalam 1 bulan bukanlah yang mudah baginya. Iroh bercerita “Waktu saya hamil gede tapi saya berusaha untuk tetap bisa datang dan menghadiri acara-acara kelompok, dan waktu saya kehilangan dua anak sekaligus saya sempat merasa depresi, tapi kemudian saya sadar itu tidak ada gunanya”.Iroh sering mengunjungi anggota-anggota kelompoknya untuk memberikan materi-materi kespro, pencegahan kekerasan terhadap perempuan, ekonomi dan politik -- meski tidak mendapatkan imbalan. “Saya senang, karena bisa dapet informasi dan ilmu yang baru, menjadikan saya kritis terhadap apa-apa yang terjadi. Apalagi kegiatannya bukan hanya simpan pinjam, tapi banyak...meskipun di belakang saya banyak yang bilang ngapain buang-buang duit aja, tapi saya senang melakukannya”.

Selain aktif di kelompok Kondang Jaya, Iroh juga beberapa kali menjadi wakil Pandeglang untuk dikirim ke forum-forum ASPPUK di Solo, pernah juga sebagai anggota BPD (Badan Permusyawaratan Desa) dan Panwaslu di desa. Kelompok Iroh pun menjadi salah satu kelompok yang diandalkan di Pandeglang untuk menjadi kader pilihan sebagai pemberi materi-materi pelatihan di kelompk-kelompok yang lain di Pandeglang.

Saat ini, Iroh masih aktif di kelompok Kondang Jaya, ia ingin terus mengembangkan kelompoknya sampai kapanpun meski sudah tidak menjadi pengurus “saya gak mau ngelewatin kesempatan untuk belajar lebih banyak” ujarnya. Bahkan saat ini Iroh berencana akan mencalonkan diri menjadi kepala desa Kondang Jaya, “saya ingin menjadi perempuan yang menjadi kepala desa ini yang pertama dan berbuat yang terbaik untuk warga” ia menegaskan, demi mencapai hal itu ia sudah melakukan sosialisasi dan silaturahmi ke masyarakat dan aparat desa Kondang Jaya.

Tentu saja perempuan seperti itu bukan hanya Iroh saja, tapi banyak Iroh-Iroh yang lain yang sudah bermunculan dari seluruh wilayah dampinagan PPSW di berbagai provinsi, motivasi mereka bukanlah mencari kekuasaan atau mengejar materi tapi untuk semakin menanamkan semangat persamaan hak antara perempuan dan laki-laki...Ya, semoga saja keinginan Iroh tercapai.... @chiet

Last Updated (Monday, 09 August 2010 09:56)